Pelatihan Budidaya Jahe Gajah Kelurahan Cokrodiningratan

Cokrodiningratan - Pada hari Kamis, 20 Februari 2025 bertempat di Aula Kantor Kelurahan Cokrodiningratan, Kelurahan Cokrodiningratan bekerjasama dengan Gapoktan Cokrodiningratan mengadakan Kegiatan Pelatihan Budidaya Jahe Gajah di Kelurahan Cokrodiningratan.

Kegiatan ini diikuti Kelompok Tani se-Kelurahan Cokrodiningratan dan perwakilan RW se Kelurahan Cokrodiningratan serta PPL Kemantren Jetis. Lurah Cokrodiningratan, Andityo Bagus Baskoro, ST., M.Eng., dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat, Martha Fahmirianti, A.Md., menyampaikan bahwa Kegiatan Pelatihan Budidaya Jahe Gajah dilaksanakan dalam rangka melestarikan sekaligus memperbanyak tanaman Jahe Gajah dalam rangka menguatkan ikon Kelurahan Cokrodiningratan sebagai Destinasi Tujuan Wisata untuk Wellness Tourism.

Oleh karena di KASANINGRAT sendiri sudah ada produk khas olahan Jahe Merah dengan nama C'Wedang, yang merupakan produk asli dari Kelurahan Cokrodiningratan. Pelatihan Budidaya Jahe Gajah ini dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman jahe yang ada di Kelurahan Cokrodiningratan.

Narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Sumaeni selaku praktisi budidaya Tanaman Jahe Gajah di Kelurahan Cokrodiningratan. Dalam paparannya Sumaeni menyampaikan terkait Teknik Budidaya Jahe Gajah. Hal yang perlu dipersiapkan adalah:

1. Persiapan Benih

Pilihlah bibit jahe gajah yang berkualitas baik karena bibit nantinya mempengaruhi hasil yang akan didapatkan. Bibit jahe yang berasal dari tanaman induk yang tua atau minimal berumur 10 bulan. Kemudian, ambil rimpang jahe gajah yang memiliki dua mata tunas, segar, tidak lecet dan tidak berpenyakit.

2. Penyemaian dan Penanaman

Penyemaian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu ditanam langsung atau dengan bedengan.

3. Perawatan Tanaman

Perawatan tanaman jahe gajah diawali dengan penyulaman atau penggantian rimpang yang mati atau rusak dengan tanaman atau rimpang baru pada saat dua sampai tiga minggu setelah penanaman.

Lalu, dilakukan proses penyiangan pada gulma atau tanaman pengganggu yang tumbuh di sekitar tanaman jahe gajah. Penyiangan pertama dapat dilakukan saat tanaman berumur sekitar dua sampai empat minggu, penyiangan berikutnya dilakukan sebanyak sekali dalam waktu tiga sampai enam minggu, tergantung jumlah gulma yang ada. Setelah jahe berumur sekitar enam sampai tujuh bulan, tidak perlu dilakukan penyiangan lagi karena rimpang sudah berukuran cukup besar. Selain itu, lakukan pembubuhan agar rimpang yang terlihat ke permukaan tanah dapat tertutup kembali. Agar nutrisi yang diperlukan tanaman terpenuhi, lakukan pemupukan. Pemupukan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk organik atau konvensional.

Proses selanjutnya yaitu penyiraman. Pada waktu melakukan penanaman jahe, tanaman tidak memerlukan banyak air untuk pertumbuhan jahe gajah, tetapi pada pertama petumbuhannya, tanaman jahe membutuhkan air yang cukup. Dengan demikian, disarankan saat memulai budidaya jahe pada awal musim hujan.

4. Panen

Setelah semua tahap dilakukan, tahap yang paling ditunggu adalah tahap pemanenan jahe gajah. Jahe gajah dapat dipanen tergantung pada penggunaan yang dimaksudkan. Saat jahe digunakan untuk memasak, jahe dapat dipanen pada usia sekitar empat bulan. Namun, jahe biasanya dipanen pada usia 10 sampai 12 bulan.

Ciri jahe gajah yang siap dipanen adalah perubahan warna daun dari hijau menjadi kuning dan pengeringan batang. Cara memanen jahe adalah dengan membuka tanah dengan garpu atau cangkul agar rimpang tidak terluka atau rusak. Kemudian, tanah atau kotoran lainnya dibersihkan dari rimpang. Setelah dibersihkan, jahe dikeringkan di bawah sinar matahari selama seminggu. Simpan di tempat terbuka dan lembap saat ditumpuk tetapi tidak terlalu tinggi.

Kegiatan diakhiri dengan Sesi Foto Bersama.